Saturday, 30 July 2016

Mensyukuri nikmatNya


Banyak sekali manusia yg menganggap bahwa kenikmatan dunia itu identik dengan harta yg banyak ( orang kaya ) , sehingga bila manusia belum kaya maka dia belum merasakan nikmat nya dunia , bukan hanya itu manusia sering menyalahkan kepada Allah dan menganggap Allah tidak adil apabila harapan mereka tentang harta tidak tercapai , sehingga manusia pun akan kembali ke belakang ( kufur Nikmat )..

Allah telah memperingatkan manusia melalui Al Quran , yaitu :

ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﻧِﻲ ﺃَﺫْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﺎ
ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥِ
“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur ” (QS. Al Baqarah: 152)


ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢْ ﺇِﻥَّ ﻋَﺬَﺍﺑِﻲ ﻟَﺸَﺪِﻳﺪٌ
“… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS.Ibrahim: 7)


Nikmat Allah tidak hanya semata harta yang melimpah , tp bayak sekali nikmat yang kita dapatkan dari Sang Maha Pengasih dan Maha Pemberi rezeki .

ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ
ﺭَﺯَﻗَﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﻤِﻴﺘُﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ
ﻳُﺤْﻴِﻴﻜُﻢْ ۖ ﻫَﻞْ ﻣِﻦْ
ﺷُﺮَﻛَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣِﻦْ
ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ
Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki,
kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang
dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Ar rum : 40).


Nikmat Allah itu luas , dari mulai manusia bisa tidur , bangun tidur kembali , melihat , bernapas , merdeka , sehat , punya keturunan , mempunyai istri / suami yg sholeh /sholehah , dan masih banyak lagi kenikmatan yang manusia rasakan tp banyak dilupakan .

Contoh yang paling ekstrim adalah kentut , kentut menurut manusia adalah hal yang menjijikan , tp siapa manusia yang tak pernah kentut ? , 
kentut harus dilakukan oleh manusia menurut kesehatan yaitu 14 kali dalam sehari , dengan kentut manusia akan sehat , karena mengeluarkan gas dari hasil katabolisme dalam tubuh . bahkan Dalam dunia kedokteran, buang angin bisa menjadi petunjuk bahwa fungsi usus dan organ pencernaan pasien telah berfungsi normal pasca operasi.


Apabila manusia belum diberi sesuai dengan yg diharapkan , berarti kita harus bersabar dan tetap positif thinking dan positive feeling terhadap Allah SWT, karena Allah tidak akan berdusta pada janjinya , hal itu bukan berarti Allah tidak mengabulkan tp ditangguhkan pengabulannya dan diganti dengan yang lebih baik.

Atau mungkin Allah hendak menguji manusia , sehingga derajat manusia tersebut akan naik ke tingkat yang lebih mulia , seperti firmannya:

ﺃَﺣَﺴِﺐَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻥْ ﻳُﺘْﺮَﻛُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ
ﺁﻣَﻨَّﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻻ ﻳُﻔْﺘَﻨُﻮﻥَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29: 2 ]


ﻟَﺘُﺒْﻠَﻮُﻥَّ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ
ﻭَﻟَﺘَﺴْﻤَﻌُﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ
ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃَﺷْﺮَﻛُﻮﺍ ﺃَﺫًﻯ
ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﺼْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ
ﻣِﻦْ ﻋَﺰْﻡِ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah,gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]


Ujian Adalah Sunnah Kauniyah ( yaitu melalui ilham secara langsung kepada makhluk-Nya di alam semesta ini tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril) pada Setiap Muslim.

Allâh Azza wa Jalla berfirman:

ﻟَﺘُﺒْﻠَﻮُﻥَّ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ
Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [Âli ‘Imrân/3: 186]


Kekokohan Iman dan kadar ujian selalu berbanding lurus. Semakin kuat iman seseorang,maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh akan semakin besar. 

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahuanhu :


ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻯُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺷَﺪُّ ﺑَﻼَﺀً
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﺛُﻢَّ ﺍﻷَﻣْﺜَﻞُ ﻓَﺎﻷَﻣْﺜَﻞُ
ﻓَﻴُﺒْﺘَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ
ﻛَﺎﻥَ ﺩِﻳﻨُﻪُ ﺻُﻠْﺒًﺎ ﺍﺷْﺘَﺪَّ ﺑَﻼَﺅُﻩُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ
ﻓِﻰ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﺭِﻗَّﺔٌ ﺍﺑْﺘُﻠِﻰَ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ
ﺩِﻳﻨِﻪِ
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no.143).


Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:

ﺇِﻥَّ ﻋِﻈَﻢَ ﺍﻟْﺠَﺰَﺍﺀِ ﻣَﻊَ ﻋِﻈَﻢِ ﺍﻟْﺒَﻠَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺣَﺐَّ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺍﺑْﺘَﻠَﺎﻫُﻢْ ﻓَﻤَﻦْ
ﺭَﺿِﻲَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟﺮِّﺿَﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﺨِﻂَ ﺍﻟﺴَّﺨَﻂُ
ﻓَﻠَﻪُ
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031 (Ash-Shahîhah no. 146).


semoga kita termasuk orang orang yg di cintai Allah dan termasuk manusia yg selalu mensyukuri Nikmat yg diberikan Allah

Aamiin ..



Wallahu ‘alam

Wednesday, 27 July 2016

Siapa saya ?

Setiap masuk di sebuah tempat wisata, tentu kita membayar tiket masuk. bila tidak, tetapi tetap ingin masuk, ya boleh saja asal siap menanggung risikonya, misalnya benjut dihajar satpam.

Di sebuah tempat wisata, seorang putra raja hendak masuk. tentu, dia tidak mau gratisan. kebetulan uangnya agak gedean (ratusan ribu). ketika petugas hendak memberikan uang kembalian, anak raja itu dengan ramah berkata, "tidak usah, buat mas saja."


Minggu berikutnya, giliran putra raja yang kedua yang hendak masuk. lalu, dengan uang yang juga gede (ratusan ribu juga), sang "pangeran" membayar. ketika petugas akan mengembalikan uang itu. dengan sopan, putra raja itu berkata, tidak usah, buat mas saja." kembali petugas itu dapat rejeki lumayan.


Nah, minggu berikutnya, giliran raja sendiri yang berkunjung ke tempat itu. dari dompetnya, sang raja mengeluarkan uang ratusan ribu dan diberikan kepada petugas untuk membayar tiket masuk. petugas itu berpikir bahwa anaknya saja tidak meminta kembalian, apalagi bapaknya. petugas itu lalu diam saja, ia tidak bermaksud memberikan uang kembalian.


Karena lama menunggu akhirnya raja angkat bicara, "mas, mana uang kembaliannya?" tentu saja, petugas itu  kaget dan berkata,, "putra bapak saja tidak meminta uang kembaliannya, lho, pak. bapak kan raja, tentu lebih hebat dari putranya?"


Dengan tersenyum, raja itu berkata, "aku kan anaknya petani biasa, mas."



Ibroh yang bisa diambil:


Tentu saja, logika petugas itu tidak salah bahwa seorang raja biasanya lebih hebat dari anaknya. jadi kalau anaknya dermawan, seharusnya raja itu lebih dermawan.


Tetapi, logika raja juga benar bahwa kedua anaknya dermawan karena dia anaknya raja. dan dia, tidak harus dermawan karena dia hanya anaknya petani biasa.

Jadi, kita memilki banyak logika yang akan kita gunakan untuk kepentingan kita. logika mana yang akan kita pilih tergantung kecerdasan spiritual kita. orang yang kecerdasan spiritualnya rendah akan menggunakan logika yang akan sesuai dangan tujuan hidupnya,

Menurut Dr, Hidayat Nataatmaja, kecenderungan manusia menggunakan kecerdasan intelektualnya tanpa didasari kecerdasan spiritualnya yang tinggi akan membuat pikiran manusia menjadi mekanis dan digital,yang mengesampingkan cinta kasih dan mementingkan hukum formal. 

Bahkan, beliau menganggap bahaya tersebut sebagai HIV dan AIDS di dunia pikiran atau kecerdasan. 
Human Intelligence virus (HIV) yang menimbulkan Acquired Intellegence Deficiency Syndrome (AIDS). orang yang terjangkit penyakit ini akan hilang perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah, dan kaku karena hanya mau menimbang segala sesuatu dengan hukum positif saja.


Saturday, 23 July 2016

JANGAN SALAHKAN ANAK

Ada pribahasa yang mengatakan "buah jatuh tak jauh dari pohon nya" artinya "sifat anak tidak akan jauh dari orang tuanya".

ada benarnya arti pribahasa ini, karena lingkungan pertama yang membentuk kepribadian anak adalah lingkungan keluarga dimana anak tersebut tinggal.

Bila lingkungan tempat dia tinggal tersebut mengajarkan anak nya untuk selalu berbuat benar dan baik, seperti: selalu mengingat Allah, belajar kesabaran, menuntut ilmu, dll, pasti anak tersebut akan benar dan baik.

begitu pula bila lingkungan tempat dia tinggal mengajarkan hal-hal salah dan tidak baik. seperti : berbicara kasar, bertengkar, tidak menghormati, mencuri dll.. maka dia pun akan berlaku seperti itu.

Hal yang perlu ditekankan disini, mengajarkan anak bukan hanya dengan kata-kata suruhan saja, tetapi di sini harus ada contoh nyata dari orang tua, sehingga anak pun akan sangat mengerti apa yg seharusnya dilakukan dan tidak dilakukan.

sifat anak bisa berubah bila ada lingkungan lain yg lebih kuat yg mempengaruhinya. hal ini akan merubah sifat asal dia, maka sebagai orang tua kita harus waspada terhadap lingkungan lain tsb, harus bisa memilah dan memilih mana lingkungan yg benar & baik dan mana yg tidak benar & tidak baik.

jadi bagaimanapun juga orang tua lah yg pertama berperan dalam pembentukan karakter anak.

Wednesday, 20 July 2016

Ketika kesombongan mengeraskan hati

Seekor  singa yang sombong berjalan mengelilingi hutan dengan angkuhnya. di tepi hutan , dia bertemu dengan domba, lalu dia berkata dengan membentak,"siapa yang terkuat dihutan ini?'. dengan gemetar, domba itu menjawab,  tentu saja engkau, tuan singa." sang singa pun meninggalkan domba itu.

kemudian, ia bertemu dengan seekor menjangan, dengan sombong dia berkata, "hai binatang lemah, siapa yang terkuat di hutan ini?' dengan ketakutan, menjangan menjawab. "tidak ada yang lebih kuat darimu, tuan singa." dengan sombongnya, dia pun meninggalkan menjangan itu dan melompat menuju ke tengah hutan.

maka, bertemulah dia dengan gajah yang tinggi besar. "Hai gajah gembrot, siapakah yang paling kuat di hutan ini?" bentak singa dengan kepongahanya. sag gajah tidak menghiraukan nya dan berniat meninggalkan sang singa. tetapi, sang singa itu menghadangnya dan kembali bertanya, "hai gajah tuli, siapa yang terkuat dihutan ini? jawab!" tanpa ba  bi bu, sang gajah itu menyeruduk singa itu dan menghajarnya habis-habisan, lalu meninggalkannnya.

sambil tehuyung-huyung, dan dalam keadaan babak belur, singa itu menggerutu, "kalau tidak tahu jawabannya, jangan marah-marah dong...."


Ibroh yang bisa diambil :

bahkan ketika sudah babak belur pun, sang singa tak menyadari kesombongannya. kesombongan  memang benar-benar sangat potensial mengeraskan hati.

hati yang keras bagaikan batu tak mau melihat kekurangan diri dan hanya bersedia melihat kekurangan orang lain.

hati yng tawadhu' sangat jelas melihat kekurangan dirinya sendiri dan kelebihan orang lain. bahkan dia bisa melihat "indahnya" tsunami, "lembutnya" goncangan gempa, ataupun " tarian indah" angin topan.