Banyak sekali manusia yg menganggap bahwa kenikmatan dunia itu identik dengan harta yg banyak ( orang kaya ) , sehingga bila manusia belum kaya maka dia belum merasakan nikmat nya dunia , bukan hanya itu manusia sering menyalahkan kepada Allah dan menganggap Allah tidak adil apabila harapan mereka tentang harta tidak tercapai , sehingga manusia pun akan kembali ke belakang ( kufur Nikmat )..
Allah telah memperingatkan manusia melalui Al Quran , yaitu :
ﻓَﺎﺫْﻛُﺮُﻭﻧِﻲ ﺃَﺫْﻛُﺮْﻛُﻢْ ﻭَﺍﺷْﻜُﺮُﻭﺍ ﻟِﻲ ﻭَﻟَﺎ
ﺗَﻜْﻔُﺮُﻭﻥِ
“Ingatlah kepada-Ku, Aku juga akan ingat kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kalian kufur ” (QS. Al Baqarah: 152)
ﻭَﻟَﺌِﻦْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢْ ﺇِﻥَّ ﻋَﺬَﺍﺑِﻲ ﻟَﺸَﺪِﻳﺪٌ
“… dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih” (QS.Ibrahim: 7)
Nikmat Allah tidak hanya semata harta yang melimpah , tp bayak sekali nikmat yang kita dapatkan dari Sang Maha Pengasih dan Maha Pemberi rezeki .
ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺍﻟَّﺬِﻱ ﺧَﻠَﻘَﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ
ﺭَﺯَﻗَﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻳُﻤِﻴﺘُﻜُﻢْ ﺛُﻢَّ
ﻳُﺤْﻴِﻴﻜُﻢْ ۖ ﻫَﻞْ ﻣِﻦْ
ﺷُﺮَﻛَﺎﺋِﻜُﻢْ ﻣَﻦْ ﻳَﻔْﻌَﻞُ ﻣِﻦْ
ﺫَٰﻟِﻜُﻢْ ﻣِﻦْ ﺷَﻲْﺀٍ ۚ ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻪُ
ﻭَﺗَﻌَﺎﻟَﻰٰ ﻋَﻤَّﺎ ﻳُﺸْﺮِﻛُﻮﻥَ
Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki,
kemudian mematikanmu, kemudian menghidupkanmu (kembali). Adakah di antara yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang
dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Maha Sucilah Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan. (Ar rum : 40).
Nikmat Allah itu luas , dari mulai manusia bisa tidur , bangun tidur kembali , melihat , bernapas , merdeka , sehat , punya keturunan , mempunyai istri / suami yg sholeh /sholehah , dan masih banyak lagi kenikmatan yang manusia rasakan tp banyak dilupakan .
Contoh yang paling ekstrim adalah kentut , kentut menurut manusia adalah hal yang menjijikan , tp siapa manusia yang tak pernah kentut ? ,
kentut harus dilakukan oleh manusia menurut kesehatan yaitu 14 kali dalam sehari , dengan kentut manusia akan sehat , karena mengeluarkan gas dari hasil katabolisme dalam tubuh . bahkan Dalam dunia kedokteran, buang angin bisa menjadi petunjuk bahwa fungsi usus dan organ pencernaan pasien telah berfungsi normal pasca operasi.
Apabila manusia belum diberi sesuai dengan yg diharapkan , berarti kita harus bersabar dan tetap positif thinking dan positive feeling terhadap Allah SWT, karena Allah tidak akan berdusta pada janjinya , hal itu bukan berarti Allah tidak mengabulkan tp ditangguhkan pengabulannya dan diganti dengan yang lebih baik.
Atau mungkin Allah hendak menguji manusia , sehingga derajat manusia tersebut akan naik ke tingkat yang lebih mulia , seperti firmannya:
ﺃَﺣَﺴِﺐَ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺃَﻥْ ﻳُﺘْﺮَﻛُﻮﺍ ﺃَﻥْ ﻳَﻘُﻮﻟُﻮﺍ
ﺁﻣَﻨَّﺎ ﻭَﻫُﻢْ ﻻ ﻳُﻔْﺘَﻨُﻮﻥَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami Telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? [al-‘Ankabût/29: 2 ]
ﻟَﺘُﺒْﻠَﻮُﻥَّ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ
ﻭَﻟَﺘَﺴْﻤَﻌُﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃُﻭﺗُﻮﺍ ﺍﻟْﻜِﺘَﺎﺏَ
ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻠِﻜُﻢْ ﻭَﻣِﻦَ ﺍﻟَّﺬِﻳﻦَ ﺃَﺷْﺮَﻛُﻮﺍ ﺃَﺫًﻯ
ﻛَﺜِﻴﺮًﺍ ﻭَﺇِﻥْ ﺗَﺼْﺒِﺮُﻭﺍ ﻭَﺗَﺘَّﻘُﻮﺍ ﻓَﺈِﻥَّ ﺫَﻟِﻚَ
ﻣِﻦْ ﻋَﺰْﻡِ ﺍﻟْﺄُﻣُﻮﺭِ
Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu benar-benar akan mendengar dari orang-orang yang diberi al-Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah,gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan [Âli ‘Imrân/3 : 186]
Ujian Adalah Sunnah Kauniyah ( yaitu melalui ilham secara langsung kepada makhluk-Nya di alam semesta ini tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril) pada Setiap Muslim.
Allâh Azza wa Jalla berfirman:
ﻟَﺘُﺒْﻠَﻮُﻥَّ ﻓِﻲ ﺃَﻣْﻮَﺍﻟِﻜُﻢْ ﻭَﺃَﻧْﻔُﺴِﻜُﻢْ
Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu [Âli ‘Imrân/3: 186]
Kekokohan Iman dan kadar ujian selalu berbanding lurus. Semakin kuat iman seseorang,maka ujian yang akan diberikan oleh Allâh akan semakin besar.
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya oleh Sa’d bin Abî Waqqâsh Radhiyallahuanhu :
ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﻯُّ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﺃَﺷَﺪُّ ﺑَﻼَﺀً
ﻗَﺎﻝَ ﺍﻷَﻧْﺒِﻴَﺎﺀُ ﺛُﻢَّ ﺍﻷَﻣْﺜَﻞُ ﻓَﺎﻷَﻣْﺜَﻞُ
ﻓَﻴُﺒْﺘَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺟُﻞُ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﻓَﺈِﻥْ
ﻛَﺎﻥَ ﺩِﻳﻨُﻪُ ﺻُﻠْﺒًﺎ ﺍﺷْﺘَﺪَّ ﺑَﻼَﺅُﻩُ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ
ﻓِﻰ ﺩِﻳﻨِﻪِ ﺭِﻗَّﺔٌ ﺍﺑْﺘُﻠِﻰَ ﻋَﻠَﻰ ﺣَﺴَﺐِ
ﺩِﻳﻨِﻪِ
“Ya Rasûlullâh! Siapakah yang paling berat ujiannya?” Beliau menjawab, “Para Nabi kemudian orang-orang yang semisalnya, kemudian orang yang semisalnya. Seseorang akan diuji sesuai kadar (kekuatan) agamanya. Jika agamanya kuat, maka ujiannya akan bertambah berat. Jika agamanya lemah maka akan diuji sesuai kadar kekuatan agamanya” [HR. at-Tirmidzi no. 2398, an-Nasâi no. 7482, Ibnu Mâjah no. 4523 (ash-Shahîhah no.143).
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:
ﺇِﻥَّ ﻋِﻈَﻢَ ﺍﻟْﺠَﺰَﺍﺀِ ﻣَﻊَ ﻋِﻈَﻢِ ﺍﻟْﺒَﻠَﺎﺀِ ﻭَﺇِﻥَّ
ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺇِﺫَﺍ ﺃَﺣَﺐَّ ﻗَﻮْﻣًﺎ ﺍﺑْﺘَﻠَﺎﻫُﻢْ ﻓَﻤَﻦْ
ﺭَﺿِﻲَ ﻓَﻠَﻪُ ﺍﻟﺮِّﺿَﺎ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﺨِﻂَ ﺍﻟﺴَّﺨَﻂُ
ﻓَﻠَﻪُ
Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031 (Ash-Shahîhah no. 146).
semoga kita termasuk orang orang yg di cintai Allah dan termasuk manusia yg selalu mensyukuri Nikmat yg diberikan Allah
Aamiin ..
Wallahu ‘alam