Setiap masuk di sebuah tempat wisata, tentu kita membayar tiket masuk. bila tidak, tetapi tetap ingin masuk, ya boleh saja asal siap menanggung risikonya, misalnya benjut dihajar satpam.
Di sebuah tempat wisata, seorang putra raja hendak masuk. tentu, dia tidak mau gratisan. kebetulan uangnya agak gedean (ratusan ribu). ketika petugas hendak memberikan uang kembalian, anak raja itu dengan ramah berkata, "tidak usah, buat mas saja."
Minggu berikutnya, giliran putra raja yang kedua yang hendak masuk. lalu, dengan uang yang juga gede (ratusan ribu juga), sang "pangeran" membayar. ketika petugas akan mengembalikan uang itu. dengan sopan, putra raja itu berkata, tidak usah, buat mas saja." kembali petugas itu dapat rejeki lumayan.
Nah, minggu berikutnya, giliran raja sendiri yang berkunjung ke tempat itu. dari dompetnya, sang raja mengeluarkan uang ratusan ribu dan diberikan kepada petugas untuk membayar tiket masuk. petugas itu berpikir bahwa anaknya saja tidak meminta kembalian, apalagi bapaknya. petugas itu lalu diam saja, ia tidak bermaksud memberikan uang kembalian.
Karena lama menunggu akhirnya raja angkat bicara, "mas, mana uang kembaliannya?" tentu saja, petugas itu kaget dan berkata,, "putra bapak saja tidak meminta uang kembaliannya, lho, pak. bapak kan raja, tentu lebih hebat dari putranya?"
Dengan tersenyum, raja itu berkata, "aku kan anaknya petani biasa, mas."
Ibroh yang bisa diambil:
Tentu saja, logika petugas itu tidak salah bahwa seorang raja biasanya lebih hebat dari anaknya. jadi kalau anaknya dermawan, seharusnya raja itu lebih dermawan.
Tetapi, logika raja juga benar bahwa kedua anaknya dermawan karena dia anaknya raja. dan dia, tidak harus dermawan karena dia hanya anaknya petani biasa.
Jadi, kita memilki banyak logika yang akan kita gunakan untuk kepentingan kita. logika mana yang akan kita pilih tergantung kecerdasan spiritual kita. orang yang kecerdasan spiritualnya rendah akan menggunakan logika yang akan sesuai dangan tujuan hidupnya,
Menurut Dr, Hidayat Nataatmaja, kecenderungan manusia menggunakan kecerdasan intelektualnya tanpa didasari kecerdasan spiritualnya yang tinggi akan membuat pikiran manusia menjadi mekanis dan digital,yang mengesampingkan cinta kasih dan mementingkan hukum formal.
Bahkan, beliau menganggap bahaya tersebut sebagai HIV dan AIDS di dunia pikiran atau kecerdasan.
Human Intelligence virus (HIV) yang menimbulkan Acquired Intellegence Deficiency Syndrome (AIDS). orang yang terjangkit penyakit ini akan hilang perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah, dan kaku karena hanya mau menimbang segala sesuatu dengan hukum positif saja.
Di sebuah tempat wisata, seorang putra raja hendak masuk. tentu, dia tidak mau gratisan. kebetulan uangnya agak gedean (ratusan ribu). ketika petugas hendak memberikan uang kembalian, anak raja itu dengan ramah berkata, "tidak usah, buat mas saja."
Minggu berikutnya, giliran putra raja yang kedua yang hendak masuk. lalu, dengan uang yang juga gede (ratusan ribu juga), sang "pangeran" membayar. ketika petugas akan mengembalikan uang itu. dengan sopan, putra raja itu berkata, tidak usah, buat mas saja." kembali petugas itu dapat rejeki lumayan.
Nah, minggu berikutnya, giliran raja sendiri yang berkunjung ke tempat itu. dari dompetnya, sang raja mengeluarkan uang ratusan ribu dan diberikan kepada petugas untuk membayar tiket masuk. petugas itu berpikir bahwa anaknya saja tidak meminta kembalian, apalagi bapaknya. petugas itu lalu diam saja, ia tidak bermaksud memberikan uang kembalian.
Karena lama menunggu akhirnya raja angkat bicara, "mas, mana uang kembaliannya?" tentu saja, petugas itu kaget dan berkata,, "putra bapak saja tidak meminta uang kembaliannya, lho, pak. bapak kan raja, tentu lebih hebat dari putranya?"
Dengan tersenyum, raja itu berkata, "aku kan anaknya petani biasa, mas."
Ibroh yang bisa diambil:
Tentu saja, logika petugas itu tidak salah bahwa seorang raja biasanya lebih hebat dari anaknya. jadi kalau anaknya dermawan, seharusnya raja itu lebih dermawan.
Tetapi, logika raja juga benar bahwa kedua anaknya dermawan karena dia anaknya raja. dan dia, tidak harus dermawan karena dia hanya anaknya petani biasa.
Jadi, kita memilki banyak logika yang akan kita gunakan untuk kepentingan kita. logika mana yang akan kita pilih tergantung kecerdasan spiritual kita. orang yang kecerdasan spiritualnya rendah akan menggunakan logika yang akan sesuai dangan tujuan hidupnya,
Menurut Dr, Hidayat Nataatmaja, kecenderungan manusia menggunakan kecerdasan intelektualnya tanpa didasari kecerdasan spiritualnya yang tinggi akan membuat pikiran manusia menjadi mekanis dan digital,yang mengesampingkan cinta kasih dan mementingkan hukum formal.
Bahkan, beliau menganggap bahaya tersebut sebagai HIV dan AIDS di dunia pikiran atau kecerdasan.
Human Intelligence virus (HIV) yang menimbulkan Acquired Intellegence Deficiency Syndrome (AIDS). orang yang terjangkit penyakit ini akan hilang perasaannya, tidak memiliki kehalusan budi, rasa cintanya punah, dan kaku karena hanya mau menimbang segala sesuatu dengan hukum positif saja.
No comments:
Post a Comment