Wednesday, 20 July 2016

Ketika kesombongan mengeraskan hati

Seekor  singa yang sombong berjalan mengelilingi hutan dengan angkuhnya. di tepi hutan , dia bertemu dengan domba, lalu dia berkata dengan membentak,"siapa yang terkuat dihutan ini?'. dengan gemetar, domba itu menjawab,  tentu saja engkau, tuan singa." sang singa pun meninggalkan domba itu.

kemudian, ia bertemu dengan seekor menjangan, dengan sombong dia berkata, "hai binatang lemah, siapa yang terkuat di hutan ini?' dengan ketakutan, menjangan menjawab. "tidak ada yang lebih kuat darimu, tuan singa." dengan sombongnya, dia pun meninggalkan menjangan itu dan melompat menuju ke tengah hutan.

maka, bertemulah dia dengan gajah yang tinggi besar. "Hai gajah gembrot, siapakah yang paling kuat di hutan ini?" bentak singa dengan kepongahanya. sag gajah tidak menghiraukan nya dan berniat meninggalkan sang singa. tetapi, sang singa itu menghadangnya dan kembali bertanya, "hai gajah tuli, siapa yang terkuat dihutan ini? jawab!" tanpa ba  bi bu, sang gajah itu menyeruduk singa itu dan menghajarnya habis-habisan, lalu meninggalkannnya.

sambil tehuyung-huyung, dan dalam keadaan babak belur, singa itu menggerutu, "kalau tidak tahu jawabannya, jangan marah-marah dong...."


Ibroh yang bisa diambil :

bahkan ketika sudah babak belur pun, sang singa tak menyadari kesombongannya. kesombongan  memang benar-benar sangat potensial mengeraskan hati.

hati yang keras bagaikan batu tak mau melihat kekurangan diri dan hanya bersedia melihat kekurangan orang lain.

hati yng tawadhu' sangat jelas melihat kekurangan dirinya sendiri dan kelebihan orang lain. bahkan dia bisa melihat "indahnya" tsunami, "lembutnya" goncangan gempa, ataupun " tarian indah" angin topan.

No comments:

Post a Comment