Ikrar Kerelaan, begitulah mudarrisuna guru kami mengistilahkan. Sebuah istilah, sebuah doa yang pertama kali ku ketahui saat atau sebelum dimulainya mengaji “iqro’” di masjid, selepas maghrib,
kala usiaku masih begitu belia. Bahkan di pesantren-pesantren klasik, sebelum dimulainya pelajaran, mereka memulai dengan doa ini, “Rodhiitu billahi rabba, wa bil Islami diina, wa bi Muhammadin Nabiyya wa rosula, robbana zidna ‘ilman warzuqna fahman. Allahummanfa’na bimaa ‘allamtana wa ‘allimna maa yanfa’una”
Aku tidak hendak membuat syarah {penjelasan) tentang doa ini, tidak, aku bukan ahlinya.
Hanya saja setiap kami memulai mengaji tiap ahad pagi di rumah ustaadzuna akhir-akhir ini, beliau selalu membacakan doa ini. Lalu terkenanglah rekam jejak, memori masa lalu.
Tapi sebelumnya, ijinkan aku menyampaikan apa yang ku pahami tentang doa ini.
Doa ini sebagaimana yang guru kami sampaikan, dalam konteks menuntut ilmu dalam islam, merupakan semacam bentuk “meminta ijin” kepada Allah sebagai Pemilik Ilmu, sebagai permohonan agar Allah membimbing dalam menapaki jalan ilmu.
Dalam hal makna Rabb, yang bisa berarti Yang Menciptakan, Yang Mengusai, Yang Mengatur, Yang Memberi rezekii, Yang Memelihara, Yang Mendidik.
Maka dalam menuntut ilmu, berada dalam pendidikan Allah. Allah yang memberi rezeki,
maka berharap dikaruniakan kefahaman terhadap ilmu. dan sebagainya dan sebagainya.
“Wa zidna ‘ilman”, bermakna dengan doa ini pun kita meminta tambahan ilmu.
Seseorang pernah berkata, “tidaklah Nabi meminta tambahan akan sesuatu, kecuali tambahan ilmu.”
Sebagaimana yang kusampaikan, tulisan ini bukan syarah doa, aku hanya terkenang dan terpikir tentang sesuatu berkaitan doa ini. “ikatlah ilmu dengan menuliskannya” begitulah nasehat ulama.
Aku tidak ingin inspirasi dari masa lalu ini menguap begitu saja, tanpa ada secuil hikmah yang bisa diambil dan menjadi bahan renungan.
Pertama, saat belajar “iqro’” sampai ke khataman AlQuran yang pertama kalinya,
doa ini praktis selalu terbaca pada setiap permulaan mengaji, mungkin antara usia 4 – 10 tahun.
Kedua, saat SD, tiap sebelum belajar selalu baca surat Wal Ashri, hasilnya, Alhamdulillah siswa teladan di SD,
Ketiga, saat SMP, mulai agak sekularis sih sistemnya, tapi, tiap jumat, sebelum belajar ada baca Al Qurannya dulu, hasilnya… gak jelek jelek amatlah, masuk kelas unggulan..
Keempat, Saat SMK, Sebelum dimulai KBM, selalu dibuka dengan membaca AlQuran, dan surat yang sering dibaca surat Wal Ashri, hasilnya, begitu mudahnya memahami pelajaran kimia murni, analisis kimia, hingga diangkat asisten guru, ngajar temen-temen yang lain..
Dan kelima, saat kuliah, kini, coba tebak, dimulai dengan apa? Tidak adaa….selama ini masuk kelas, buka catatan, perhatikan dosen, nulis, pulaang…that’s all.
Lalu hasilnya, jujur saja, seakan-akan tidak ada ilmu yang membekas dalam diri. Kalaupun ada, pemahaman ilmu itu hanya “saharitaeun”, hanya saat itu saja aku pahami, dan besoknya, ketika ditanya tentang materi yang saat itu dipahami, seakan-akan aku “thaalibun jadiid” murid baru yang belum pernah mempelajari materi itu.
Ah, entahlah…Terlepas dari faktor-faktor lain, seperti waktu, karena pagi bekerja, sorenya kuliah; kurangnya pengulangan; dan akibat kemaksiatan. Maka dengan tidak memulai pembelajaran dengan membaca AlQuran, berikrar kerelaan dan berdoa supaya ditambah ilmu dan dikaruniai pemahaman, rasanya itulah yang menyebabkan materi perkuliahanku tak lagi membekas dalam pikiran, apalagi dalam hatiii...
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah engkau mendahului Allah dan Rasul-Nya, dan bertakwalah pada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar Maha Mengetahui” (Al Hujurat ayat 1)
Ayat tersebut dalam tafsir, bermakna menjadikan AlQuran dan Sunnah sebagai landasan, tidak melulu mengatakan “kata si anu” “menurut si anu”.
Namun sebagai bentuk tadabbur pribadi dalam konteks menuntut ilmu, boleh jadi bermakna memulai kegiatan belajar dengan nama Allah, berdoa kepadaNya, meminta dikarunia kefahaman dari-Nya,
lalu makna wattaqullah “bertakwalah kepada Allah”… seperti yang pernah dinasehatkan guru kami “ittaqulllah wa yu’allimukumullah” bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan mengajarimu..
Belum lagi hadist riwayat Abu Daud, “kullu amrin dzii ballin laa yubda-u fiihi bibismillahi, fahuwa aqtha’” (setiap perkara yang tidak dimulai dengan basmalah, maka ia terputus).
terputus apanya?
para ulama mengatakan, maksudnya terputus dari keberkahan,
karena basmalah adalah sebagai tabarruk “mencari keberkahan”.
Dan berkah itu sendiri mempunyai pengertian “katsrotul khoir wa tsubutuhu” kebaikan yang banyak dan terus menerus ada.
Dan ilmu adalah kebaikan, maka jika ia tidak diserap oleh pikiran, tidak bersemayam dalam hati, boleh jadi tidak ada keberkahannya sama sekali.
Dan, ketika mata kuliah sudah hampir berujung. Tugas KP, tugas perancangan, dan tugas penelitian yang mungkin akan menggunung.
Sedangkan dasar materinya pun masih luntang-lantung. Masih adakah kesempatan?
Semoga masih ada harapan,
karena aku teringat nasehat Fudhail bin ‘iyadh, “perbaiki apa-apa yang tersisa padamu, semoga Allah mengampuni apa-apa yang telah berlalu…”
Wallahul musta’aan
(Renungan malam, diatas matras, 23 Juni 2014, pkl 21.30) by Taufik W