Saturday, 5 November 2016

TipS agar tetap sehat di bulan Ramadhan Bagian III

 Berbuka shaum yang baik ala Rasulullah

selamat datang kembali di blog positive thikinng positive feeling, setelah sebelunya pada TipS  agar tetap sehat di bulan Ramadhan bagian I dan II kita membahas tentang sahur sehat ala rasulullah dan melakukan aktivitas saat shaum, sekarang di bagian ke III  ini kita membahas tentang berbuka shaum yang baik ala rasulullah.


Kenapa setiap yang akan kita kerjakan sebaiknya mencontoh pada Rasulullah SAW ? Dan ini adalah salah satu alasan mengapa Allah menurunkan Muhammad SAW, di tengah-tengah manusia. Tiada lain untuk membimbing nafsu manusia bagaimana seharusnya ia dibimbing, dikendalikan dan diarahkan. 

Rasulullah SAW. bersabda:
إنما بعثت لأتم صالح الاخلق
”Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang sholeh”. (HR: Bukhari dalam shahih Bukhari kitab adab, Baihaqi dalam kitab syu’bil Iman dan Hakim).

Hadist dari Anas dia menyatakan:
Aisyah menyebut akhlak Rasulullah SAW. adalah Al-Qur’an.
كان احسن الناس خلقا
“Nabi SAW. adalah manusia dengan akhlak yang terbaik”. (HR: Muslim dan Abu Dawud).
Dalam Alquran, Allah memuji Rasulullah SAW sebagai suri teladan yang baik bagi umat. 
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرً
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut nama Allah." (QS al-Ahzab [33]: 21).
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (Al-Qalam: 4).
Hal ini menunjukkan bahwa akhlak dan pribadi Rasulullah SAW  sangat baik dan mulia dan wajib dijadikan contoh oleh seluruh manusia.
Bagaimanakah cara   berbuka shaum  yang baik ala rasulullah itu ?

Disini akan dipaparkan secara garis besarnya bagaimana rasullulah berbuka shaum:

1. waktu berbuka 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (Al.Baqarah : 187)

Hal itu dipertegas oleh hadits Nabi SAW, dari Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab ia berkata, “Rasulullah bersabda, ‘Apabila malam datang dari arah sini dan siang menghilang dari arah sini, serta matahari telah tenggelam maka orang yang puasa boleh berbuka.’” (HR Bukhari dan Muslim). Hal ini merupakan ijma kaum Muslimin dari zaman Nabi sampai sekarang.

2. berdoa sebelum berbuka 

Jangan lupa berdoa dulu sebelum berbuka , Berdoa ketika berbuka puasa merupakan salah satu doa Mustajab, seperti banyak disebut dalam hadist-hadist. 
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
ثَلَاثٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ فَوْقَ السَّحَابِ يَوْمَ الْقِيَامَة
Ada tiga orang yang doanya tidak ditolak: Pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai dia berbuka, dan doa orang yang didzalimi, Allah angkat di atas awan pada hari kiamat.”
(HR. At-Tirmidzi 2526, Thabrani dalam Al-Ausath 7111. Syaikh Aqil bin Muhamad Al-Maqthiri mengatakan: Hadis ini statusnya hasan berdasarkan gabungan semua jalurnya. Hadis ini juga dinilai hasan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Talkhis Al-Habir, 2:96). 
Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau mengatakan:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذَا أَفْطَرَ قَالَ: «ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ… »
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau berbuka, beliau membaca: “Dzahaba-zh Zama’u, Wabtalati-l ‘Uruuqu
“Telah hilang rasa haus, dan terbasahi tenggorokan serta pahala tetap insyaAllah.
(HR. Abu Daud 2357, Ad-Daruquthni dalam sunannya 2279, Al-Bazzar dalam Al-Musnad 5395, dan Al-Baihaqi dalam As-Shugra 1390. Hadis ini dinilai hasan oleh Al-Albani).
3. Berbuka (Ifthar) Sebelum Sholat Maghrib (Takjil  / penyegeraan)

Tiga perkara yang merupakan akhlak para nabi: menyegerakan berbuka, mengakhirkan sahur dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dalam shalat. (HR. Ath-Thabarani, hadist Mauquf).

Sahl bin Sa’d meriwayatkan, Rasulullah bersabda, “Manusia itu akan terus berada dalam kebaikan selagi mana dia menyegerakan berbuka puasa.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam kitab Syarah Muslim, Imam Nawawi menjelaskan, hadist ini berisi anjuran untuk menyegerakan berbuka setelah yakin matahari telah terbenam.

Imam Thabari dalam tafsirnya menjelaskan, Allah SWT telah menetapkan batasan akhir waktu berpuasa, yaitu datangnya waktu malam, sebagaimana Allah SWT menetapkan batasan boleh makan, minum, berhubungan suami istri, dan waktu mulai berpuasa adalah datangnya awal waktu siang (terbitnya fajar),ayat al baqarah : 187. Hal itu menunjukkan tidak boleh berpuasa pada waktu malam sebagaimana tidak boleh berbuka saat siang pada hari-hari berpuasa.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya juga menegaskan, ayat al baqarah : 187 menunjukkan waktu berbuka puasa itu adalah ketika terbenamnya matahari
4. Buka Puasa Dengan Kurma dan Air 
Adalah Rasulullah Saw berbuka dengan korma basah (ruthab), jika tidak ada ruthab maka berbuka dengan korma kering (tamr), jika tidak ada tamr maka minum dengan satu tegukan air. (HR. Ahmad, Abu Daud, Baihaqi, Hakim, Ibn Sunni, Nasai, Daruquthni dan lainnya)

Jika tidak tersedia kurma bisa dengan makanan lainnya.

5. Sholat magrib dahulu sebelum menyantap menu makanan yang lain atau bersantap  dulu baru sholat magrib ?

Namun sebaiknya menyantap makanan berat seperti nasi dan lauk pauknya dilakukan setelah sholat Magrib. Tubuh memerlukan waktu sejenak bagi organ pencernaan untuk dapat mencerna makanan besar yang akan masuk.

kemudian nabi menyegerakan sholat magrib dahulu. Dan ketika berbuka itu, Rasul SAW hanya memakan  kurma dan segelas air putih, lalu segera berwudhu untuk mengerjakan shalat Maghrib secara berjamaah.

Dari Abu ‘Athiyah RA, dia berkata, “Saya bersama Masruq datang kepada Aisyah RA. Kemudian Masruq berkata kepadanya, “Ada dua sahabat Nabi Muhammad SAW yang masing-masing ingin mengejar kebaikan, dan salah seorang dari keduanya itu segera mengerjakan shalat Maghrib dan kemudian berbuka. Sedangkan yang seorang lagi, berbuka dulu baru kemudian mengerjakan shalat Maghrib.” Aisyah bertanya, “Siapakah yang segera mengerjakan shalat Maghrib dan berbuka?” Masruq menjawab, “Abdullah bin Mas’ud.” Kemudian Aisyah berkata, “Demikianlah yang diperbuat oleh Rasulullah SAW.” (HR Muslim No 1242).
Namun dalam riwayat yang lain, Rasullulah menyantap hidangan  dulu sebelum menunaikan sholat maghrib.
Dari Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا قُدِّمَ الْعَشَاءُ فَابْدَءُوا بِهِ قَبْلَ أَنْ تُصَلُّوا صَلاَةَ الْمَغْرِبِ ، وَلاَ تَعْجَلُوا عَنْ عَشَائِكُمْ
Apabila makan malam sudah tersaji, maka dahulukanlah makan malam tersebut dari shalat maghrib. Dan janganlah kalian tergesa-gesa dari makan kalian .” (HR. Bukhari no. 672 dan Muslim no. 557)
[Bukhari: 15-Kitab Al Jama’ah wal Imamah, 14-Bab Apabila Makanan Telah Dihidangkan dan Shalat Hendak Ditegakkan. Muslim: 6-Kitab Al Masajid, 17-Bab Terlarangnya Mendahulukan Shalat Sedangkan Makan Malam Telah Tersaji dan Ingin Dimakan Pada Saat Itu Juga]
begitulah cara berbuka yang baik menurut sunah yang telah dicontohkan Rasulullaah.  

semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bish shawab.

No comments:

Post a Comment